Jumat, 22 September 2017 14:02 WIB

TNI Diimbau Lincah Mainkan Pena

Editor : Eggi Paksha
Eko Suprihatno (kemeja biru) ketika memberikan materi teknis penulisan berita di Media Center Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (24/08/2017). (foto istimewa)
JAKARTA, Tigapilarnews.com- Fungsi penerangan di tubuh TNI wajib diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh pimpinan TNI.
 
Pasalnya, dalam kondisi sekarang ini yang membutuhkan kecepatan untuk menangkal segala bentuk propaganda negatif.
 
Pandangan tersebut, disampikan Redaktur Senior di Harian Media Indonesia, Eko Suprihatno, kepada Tigapilarnews.com, Jumat (22/09/2017) siang, saat menjawab diskusi seputar upaya meningkatkan peran dan kemampuan organisasi penerangan sebagai kehumasan TNI AD menghadapi ancaman perang informasi.
 
"Prajurit jangan hanya piawai menggunakan senjata ketika bertempur di medan perang, tapi juga harus lincah memainkan pena untuk menulis.
Tulisan ditambah foto, akan memiliki nilai yang luar biasa. Propaganda negatif hanya bisa dilawan dengan propaganda yang berisikan tentang fakta-fakta kebenaran. Di situlah peran penting keberadaan prajurit di satuan penerangan setiap matra untuk mampu mengolah fakta dan informasi untuk disajikan kepada masyarakat," paparnya.
 
"Selain untuk menangkal propaganda negatif, menulis juga bisa digunakan untuk memberikan wajah yang ramah kepada masyarakat terkait perkembangan di tubuh TNI. Prajurit yang tangguh bukan hanya mampu memenangkan pertarungan konvensional, tapi juga punya keahlian untuk memenangkan hati rakyat dengan keindahan tulisan," imbuh sosok yang juga menjadi Dosen untuk mata kuliah Penulisan Berita, Olahraga dan Budaya (PBOB) di Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta tersebut.
 
Lebih jauh diutarakannya lagi, fungsi pokok TNI adalah pertahanan negara. Bersama rakyat, TNI menjadi penjaga keamanan semesta. Namun, dalam situasi di mana peran internet sudah merasuki semua lini kehidupan, TNI tidak boleh hanya memandang keamanan dari sisi konvensional saja. "Karena bila itu didiamkan bisa merusak segala sendiri kehidupan bernegara," katanya.
 
"Itu sebabnya, menangkal segala isu yang bisa meruntuhkan sendi-sendi keamanan bangsa dalam cyber war hanya bisa ditandingi dengan kepiawaian menulis. Sodorkan fakta, menganalisis, dan kemudian menurunkan dalam sebuah tulisan yang bernas adalah sebuah keniscayaan," ujarnya.
 
Sebelumnya, Eko Suprihatno, juga hadir memberikan materi teknis penulisan berita dalam kegiatan meningkatkan kemampuan perorangan dan tim di bidang publikasi dan dokumentasi, Penerangan Kostrad, Latihan Fungsi Penerangan Tahun Anggaran (TA) 2017, di Media Center Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (24/08/2017).
 
Kala itu, kegiatan dibuka Wakil Kepala Penerangan (Wakapen) Kostrad Letkol Inf Piter Dwi Ardianto. Kegiatan diikuti oleh seluruh personel Penerangan Kostrad, baik prajurit maupun Pegawai Negeri Sipil (PNS), bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit Penerangan Kostrad di bidang penerangan.
 
Dikutip dari rilis penerangan Kostrad, Piter Dwi Ardianto menjelaskan salah satu tujuan kegiatan ini adalah sebagai insan penerangan harus tahu betul perkembangan Informasi Teknologi (IT) belakangan ini, agar bisa mengangkat citra positif Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), khususnya Kostrad di mata masyarakat umum dan meningkatkan kemampuan prajurit penerangan Kostrad dalam melakukan serbuan informasi serta meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas dan program kerja satuan penerangan.
 
Dengan demikian, mampu mewujudkan penerangan Kostrad yang maju, dinamis, dan kreatif, mutlak diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan berwawasan luas serta dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan lingkungan.
 
"Evaluasi latihan jurnalistik di Kostrad, ada semangat yang diperlihatkan para prajurit untuk menggali ilmu baru bernama jurnalistik. Sudah terlihat ada bakat menulis dari sejumlah prajurit, dan itu bisa dilihat dari evaluasi tulisan yang mereka buat ketika dilakukan praktik," imbuhnya.
 
"Kekurangannya, yakni kurang waktu untuk melakukan latihan, sehingga tidak maksimal dalam menuangkan fakta yang didapat di lapangan. Tapi, hal ini bisa teratasi kalau sering dilakukan pelatihan," pungkasnya.(exe)

0 Komentar