Kamis, 05 Mei 2016 19:11 WIB

Miris! Media Asing Soroti Kasus Pemerkosaan Yuyun

Editor : Rajaman
JAKARTA, Tigapilarnews.com - Kasus pemerkosaan disertai pembunuhan yang menewaskan seorang siswi di bawah umur, Yuyun terjadi di Bengkulu, ternyata menjadi sorotan perhatian media-media asing.

Seperti, media asal Inggris, BBC mengutip pernyataan aktivis perempuan dari Kolektif Betina, Kartika Jahja yang mencetuskan gerakan kepedulian di media sosial dengan hashtag #NyalaUntuk Yuyun.

Selain itu, BBC juga mengangkat pernyataan Sophia Hage, aktivis LSM Lentera, terkait stigma di Indonesia, bahwa pemerkosaan terjadi karena kesalahan perempuan.

“Orang-orang menyalahkan korban dan keluarga serta teman-teman korban, ketimbang berfokus pada hukuman pada para pelaku pemerkosaan,” cetus Sophia Hage.

“Saya harap gerakan ini tak berhenti hanya di media sosial. Kita harus melawan kekerasan seksual di dunia nyata dan melakukan segalanya yang kita bisa, menggunakan apa yang kita miliki. Kekerasan seksual adalah isu darurat di Indonesia, tapi kebanyakan orang tidak peduli,” sebut Kartika.

Sementara media online Time.com yang mengangkat pernyataan Walton, di mana dari sejumlah kasus pemerkosaan pada 2016, kasus Yuyun merupakan yang paling brutal.

“Yuyun merupakan satu dari 44 wanita dan gadis yang dibunuh pada empat bulan pertama 2016, tapi kasusnya adalah salah satu yang paling brutal,” tutur Walton.

Sedangkan media asal Australia, Sydney Morning Herald mengangkat desakan akvitis dari Politik Rakyat, Vivi Widyawati, soal pengesahan rancangan undang-undang tentang kekerasan seksual.

“Semakin lama RUU itu disahkan menjadi UU, semakin banyak korban-korban yang akan berjatuhan,” tegas Vivi.

Kejadian yang memilukan hati ini terjadi pada Senin, 2 April 2016 lalu di sebuah daerah di Kasie Kasubun, Bengkulu, di mana Yuyun yang dalam perjalanan pulang dari sekolah, diperkosa secara bergiliran dan dibunuh 14 orang.

Jasadnya dibuang di sebuah perkebunan dan baru ditemukan dua hari setelah kejadian. Kasus ini sempat tak tersorot, sebelum akhirnya aktivis perempuan asing yang berbasis di Jakarta, Kate Walton, mengungkit kasus brutal ini ke publik.
0 Komentar