Selasa, 02 Agustus 2016 06:30 WIB

Kalah Bersaing di China, Uber Dijual ke Didi

Editor : Eggi Paksha
JAKARTA, Tigapilarnews.com- Perusahaan transportasi berbasis aplikasi, Uber, akhirnya mengibarkan bendera putih dalam menghadapi pertempuran transportasi di Negeri Tirai Bambu.

Melansir Bloomberg, Senin (01/08/2016), Uber menghamburkan uang sekitar USD1 miliar ekuivalen Rp13 triliun (estimasi kurs Rp13.051/USD) per tahun, demi menguasai pangsa pasar China. Sementara Didi ChuXing, saingannya, menawarkan subsidi sendiri untuk pengemudi dan pengendara dalam membangun bisnisnya.

Kalah bersaing, Uber menyerah dan melego diri kepada Didi, layanan transportasi berbasis aplikasi yang sangat dominan di China. Kekalahan Uber di China, kabarnya karena turut campurnya Pemerintah China, dengan mengeluarkan aturan bahwa layanan Didi ChuXing adalah legal alias sah, sehingga membuka jalan bagi perusahaan untuk mempeluas lebih lanjut bisnisnya.

Apalagi mereka mendapat sokongan dana dari perusahaan e-commerce Alibaba Group dan Tencent Holdings Ltd., gergasi internet besar di Republik Rakyat China. Didi ChuXing (sebelumnya bernama Didi Kuaidi) siap membeli merk, bisnis, dan data Uber yang ada di China.

Uber Technologies dan pemegang saham lainnya di Uber China- termasuk mesin pencari Baidu Inc.- akan menerima saham 20 persen dari akuisisi ini. Pendiri Didi, Cheng Wei dan CEO Uber Travis Kalanick dikabarkan akan bergabung dalam merger kedua perusahaan.

“Didi ChuXing dan Uber telah belajar banyak dari satu sama lain selama dua tahun belakangan,” kata Cheng sebagaimana dilansir Bloomberg.

“Dan perjanjian dengan Uber, akan mengatur industri transportasi bergerak dengan sehat, jalur yang lebih berkelanjutan, dan pertumbuhan pada tingkat yang lebih tinggi." Sambungnya.

Sumber terdekat dengan persoalan itu membisikkan, bahwa merger Didi dengan Uber akan membuat valuasi perusahaan menjadi USD35 miliar atau sekitar Rp456 triliun.

Adapun Wall Street Journal, Senin (01/08/2016), menyebut saat ini valuasi Didi senilai USD28 miliar, dan dikombinasikan dengan bisnis Uber China yang bernilai sekitar USD8 miliar, Didi akan memiliki valuasi sekitar USD36 miliar.

Sementara itu, Kalanick dalam posting blognya, menyampaikan sebagai pengusaha, dirinya telah belajar bahwa menjadi sukses juga harus mengikuti kata hati. Ia menyambut merger ini bahwa Uber China dan Didi ChuXing akan menjadi lebih kuat bersama-sama.

Kesepakatan merger ini akan tunduk kepada regulasi di China. Dimana kombinasi dari dua pemain top ini akan meningkatkan pengawasan peraturan terkait transportasi berbasis aplikasi. Dan pejabat China yang menentukan peraturan kompetisi.

“Kementerian Perdagangan China harus memanggil keduanya untuk menentukan ukuran pasar dan langkah selanjutnya dari bisnis ini,” kata Deng Zhisong, senior partner di firma hukum Dentons yang berbasis di Beijing.

Namun, pembelian bisnis Uber China kabarnya akan mempersulit aliansi Didi lainnya di seluruh dunia. Pasalnya, perusahaan yang berdiri pada Juni 2012 itu, telah setuju bekerja sama dengan Lyft Inc., dari Amerika Serikat, Ola India dan Ambil dari Malaysia, untuk menciptakan kekuatan global bidang transportasi berbasis aplikasi.

Kekalahan Uber seperti sebuah pengulangan alias dejavu, dimana pada 2005, Yahoo! Inc terpaksa menyerah dan melakukan kesepakatan serupa dengan menjual bisnisnya di China kepada Alibaba Group sebesar USD1 miliar.

“China adalah suatu pasar yang sulit dalam hal regulasi, kompetisi dan budaya. Mereka (perusahaan asing) menghadapi tantangan pada banyak bidang,” ujar Li Yujie, analis di RHB Research Institute Sdn di Hong Kong. Sehingga, timpal dia, bekerja sama lebih baik daripada melawan.(exe/ist)
0 Komentar