Senin, 05 Desember 2016 10:37 WIB

Pasca Aksi Damai 212, PKS: Kita Harus Kawal Keadilan di Kejaksaan

Editor : Rajaman
JAKARTA, Tigapilarnews.com – Ketua Fraksi PKS DPR RI Jazuli Juwaini memuji Aksi Bela Islam III (Aksi Damai 212) yang telah berlangsung secara tertib dan indah, sesuai dengan kesepakatan antara GNPF-MUI dengan Kapolri.

"Aksi super damai 212 benar-benar super. Sangat tertib, super damai, dan indah mengagumkan. Mereka tetap dalam barisan shaf yang rapi hingga tuntas acara. Lalu membubarkan diri sesuai waktu yang ditentukan," puji Jazuli saat dihubungi, Senin (5/12/2016).

Meskipun demikian, Jazuli menegaskan kasus dugaan Penistaan Agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menjadi tuntutan pada aksi tersebut, harus tetap dikawal dan dikontrol di level kejaksaan.

Sebab, pasca Polri menyerahkan seluruh berkas dugaan penistaan agama tersebut ke kejaksaan, maka kejaksaan akan diuji nurani kejujurannya untuk melakukan tuntutan yang memenuhi rasa keadilan rakyat, sesuai norma hukum yang berlaku di republik ini.

“Kejaksaan jangan terpengaruh oleh tarikan-tarikan politik kepentingan tertentu tapi harus fokus pada penegakan hukum yang berkeadilan. Kita semua harus mengawal dan mengontrol Kejaksaan dalam menjalankan tugas dan fungsinya sambari kita do'akan agar Kejaksaan dapat bimbingan dari Allah untuk mengakan hukum dengan adil baik dan benar,” papar Jazuli.

Diketahui, saat ini kejaksaan telah menetapkan bahwa berkas yang diserahkan Bareskrim Polri tersebut telah dinyatakan lengkap, yaitu memenuhi syarat formil dan materil (P-21). Pasca ini, kejaksaan akan meminta penyidik polri untuk segera menyerahkan barang bukti serta tersangka, yaitu Ahok.

Tak lupa, Jazuli pun mengapresiasi panitia penyelenggara yang mampu mengelola aksi dengan sangat baik.

“Juga kepada Kapolri yang hadir memberi sambutan dan menyampaikan komitmennya dalam menegakkan hukum yang adil. Serta kepada Panglima TNI yang ikut menjaga keamanan bersama Polri,” tegas Anggota Komisi I DPR RI ini.

Dalam penilaian Jazuli, aksi damai yang diisi 4 juta lebih rakyat Indonesia ini menunjukkan kedewasaan dan kesantunan umat Islam dan elemen rakyat lainnya dalam berdemokrasi. Yaitu, bahwa umat Islam itu selalu cinta damai. Bahkan tidak terdengar ungkapan provokasi, yang ada hanyalah penyadaran, doa, nasihat, dan tausiyah bagi penguatan kebangsaan Indonesia.

"Ini bisa menjadi teladan bagi bangsa bahkan dunia. Dengan jumlah massa yang luar biasa besar, aksi ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, tapi semuanya tertib rapi, sangat elegan. Bahkan peserta aksi berlomba-lomba mengingatkan agar tidak menginjak taman dan membersihkan sampah begitu aksi usai," paparnya.

Jazuli juga menilai betapa kuat solidaritas dan persaudaraan di antara rakyat dalam menjaga arti kebhinnekaan dan persatuan. Dari orasi dan partisipasi rakyat yang demikian besar, tambah Jazuli, menunjukkan bahwa masyararakat Indonesia terusik dan gundah dengan sikap dan tindakan penodaan agama yang merusak bangunan kebhinnekaan dan persatuan itu sendiri.

"Untuk itu hukum yang berkeadilan menjadi tuntutan utama mereka agar kebhinnekaan dan persatuan tetap terjaga. Dan ini semua tidak ada kaitan dengan SARA," tegas Jazuli.

Ditambah, hadirnya Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kall beserta para menteri, yang bergabung dalam aksi dan sholat jumat menambah kesejukan aksi yang sangat damai ini.

"Saya pribadi mengapresiasi kehadiran Presiden. Ini sikap yang arif dan bijaksana selain ikut menentramkan suasana juga sebagai bentuk empati dan afirmasi terhadap rasa keadilan yang dituntut rakyat dan umat," pungkas Jazuli.

Oleh karena itu, aksi ini juga membuktikan bahwa pendekatan persuasif, arif dan bijak seperti inilah yang seharusnya dikedepankan oleh penguasa dalam menghadapi persolan di masyarakat.

"Zaman modern seperti sekarang sudah tidak relevan lagi mengunakan cara-cara intimidasi dan kekerasan dalam menghadapai dan menyelesaikan persoalan umat, rakyat, dan bangsa," tegas Jazuli.

Saat ini justru yang dilakukan oleh Jokowi adalah menghabisi orang-orang yang dianggap lawan dan melindungi orang-orang yang dia anggap sebagai kawan bagaimanapun caranya.

”Seperti penangkapan aktivisi itu. Menurut saya mereka justru adalah para pejuang yang mempertahankan NKRI, orang-orang yang prihatin pada kehancuran bangsa.Dengan penangkapan mereka maka proses penghancuran bangsa justru akan berjalan mulus,” tandasnya.
0 Komentar