Kamis, 13 April 2017 16:31 WIB

Indonesia Hadapi Tantangan Besar Perdagangan Internasional

Editor : Rajaman
Ilustrasi perdagangan internasional (ist)

JAKARTA, Tigapilarnews.com - Indonesia menghadapi tantangan besar dalam perdagangan internasional pada 2017 mulai dari target pertumbuhan ekonomi, usaha peningkatan ekspor, hingga kebijakan dari negara lain terhadap Indonesia.

"Perkembangan ekonomi kita dalam beberapa tahun terakhir cukup lambat, dan kami berharap dapat meningkatkannya pada 2017-2018 dengan proyeksi kurang lebih 5,1 hingga 5,3 persen," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan ri Satria saat membuka pemaparannya dalam ASEAN Business Talks di Mercantile Athletic Club, World Trade Center Jakarta, Kamis (13/4/2017).

Dia mengatakan selain proyeksi pertumbuhan ekonomi, Kementerian Perdagangan juga menargetkan angka ekspor Indonesia pada 2017 sebesar 5,63 persen untuk produk non-migas.

Pangsa pasar juga akan mulai meluas hingga ke wilayah Afrika karena banyak potensi perdagangan yang dapat dilakukan oleh Indonesia dengan negara-negara di Afrika melalui erjanjian pasar bebas (FTA) bilateral antara Indonesia dengan negara terkait.

"Negara-negara tujuan ekspor terbesar kita adalah Amerika Serikat, China, Jepang, India, dan Singapura. Selain ASEAN sebagai target perdagangan terdekat, pasar di luar ASEAN juga masih sangat luas dan dapat kita maksimalkan potensinya, salah satunya di Afrika Untuk awalnya kami akan berfokus pada Afrika Selatan, Kenya, Mozambik dan Nigeria," katanya.

Selain perluasan pangsa pasar melalui FTA di beberapa negara Afrika, dia juga menyinggung aspek logistik dalam perdagangan internasional yang sering menjadi permasalahan bagi industri kecil dan menengah untuk lebih aktif dalam ekspor.

"Untuk ASEAN tarif logistik mahal itu dikarenakan jasa pengiriman yang aktif adalah milik asing. Pemerintah bersama kementerian terkait telah mengeluarkan 14 paket kebijakan ekonomi dan sedang berdiskusi untuk kebijakan yang ke-15, kebijakan terbaru itu membahas sisi logistik dimana kita akan mewajibkan ekspor komoditas tertentu untuk menggunakan jasa pelayaran logistik nasional," ujar pria yang pernah menjabat sebagai Atase Perdagangan itu.

Dia berharap kebijakan yang masih dalam tahap penelitian itu juga dapat meningkatkan industri pelayaran logistik nasional.

Tantangan lain yang dia sebut dihadapi oleh Indonesia adalah kebijakan perdagangan luar negeri dari negara lain. Seperti kebijakan Donald Trump yang memasukkan Indonesia dalam "daftar negara yang melakukan kecurangan perdagangan" dan peningkatan pajak progresif komoditas CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit di Eropa.

Ari menjelaskan bahwa untuk Amerika, kebijakan itu baru saja dikeluarkan dan masih belum berdampak langsung terhadap ekspor Indonesia ke negara itu, namun Indonesia bukanlah pihak yang salah.

"Kita selalu berbisnis dengan adil, barang-barang yang kita ekspor ke Amerika merupakan barang-barang komplementer, sehingga seharusnya wajar saja Indonesia mengalami surplus besar karena Amerika tidak melakukan hal yang sama," kata dia saat diwawancarai oleh Antara selepas acara.

"Contohnya udang, mereka membutuhkan, jadi kita jual ke mereka. Begitu pula dengan kopi, tanaman itu hanya tumbuh di iklim tropis dan mereka tidak dapat menumbuhkannya sehingga mereka mengimpor dari kita," tambahnya.

Untuk minyak sawit di Eropa, terutama di Prancis, ia mengatakan bahwa hal tersebut dikarenakan ada "blackmail" atau berita bohong yang ditujukan terhadap komoditas itu.

"Kami belum tahu siapa, namun sepertinya melibatkan NGO (Organisasi non-pemerintah). Harga minyak sawit kita lebih murah dari komoditas serupa dari negara lain sehingga saya rasa itu memunculkan persaingan yang tidak sehat. Seperti ada gosip bahwa minyak kita mengandung bahan-bahan berbahaya dan mempekerjakan mereka yang di bawah umur. Namun itu semua tidak benar," dia.

Ari mengatakan pihak kementerian telah menghubungi parlemen Prancis dan mengundang mereka untuk datang langsung melihat perkebunan sawit di Indonesia untuk membuktikan bahwa rumor-rumor itu tidak benar. "Masih belum mendapatkan tanggapan hingga kini, tapi masih berjalan," katanya.

sumber: antara


0 Komentar