Jumat, 07 September 2018 23:27 WIB

Sandiaga Uno Sebut ada Kekeliruan dalam Orientasi dan Strategi Pembangunan Ekonomi

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi uang Rupiah dan Dolar AS. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dianggap karena lemahnya fundamental ekonomi nasional.

Hal tersebut merupakan sikap Koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno usai menggelar pertemuan di Rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (07/09/2018) malam.

"Kami amat prihatin dengan melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan yang tentunya memberatkan perekonomian nasional, khususnya rakyat kecil," ujar bakal calon Wakil Presiden, Sandiaga Uno di lokasi.

Sebab, kata dia, cepat atau lambat rakyat kecil harus menanggung kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, termasuk harga kebutuhan makanan sehari-hari rakyat kecil, seperti tahu dan tempe. "Melemahnya kurs rupiah yang berkepanjangan itu karena lemahnya fundamental ekonomi kita," kata mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini.

Dia melanjutkan, defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan melebar. Selain itu, sambung Sandi, sektor manufakturing yang menurun dan pertumbuhan sektor manufakturing yang di bawah pertumbuhan ekonomi. 

"Sektor manufakturing yang pernah mencapai hampir 30% dari PDB pada tahun 1997, sekarang tinggal 19% dari PDB. Hal ini tentu mengganggu ketersediaan lapangan kerja dan ekspor kita," kata Sandiaga.

Selain itu, kata dia, melemahnya fundamental ekonomi karena selama ini terjadi suatu kekeliruan dalam orientasi dan strategi pembangunan ekonomi. Antara lain, kata dia, tidak berhasilnya pemerintah dalam mendayagunakan kekuatan ekonomi rakyat.

"Sehingga kebutuhan pangan semakin tergantung pada impor seperti beras, gula, garam, bawang putih, dan lain-lain," katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah perlu lebih waspada dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi keadaan yang dihadapi. Antara lain, mendayagunakan ekonomi nasional untuk mengurangi impor pangan dan impor barang konsumsi yang tidak urgent, bersifat pemborosan, dan barang mewah yang ikut mendorong kenaikan harga-harga bahan pokok.

Kemudian, mengurangi secara signifikan pengeluaran pengeluaran APBN dan APBD yang bersifat konsumtif, seremonial, dan yang tidak mendorong penciptaan lapangan kerja. "Semoga Allah SWT akan senantiasa memberi taufik dan hidayahnya serta meridhoi kehidupan berbangsa dan bernegara kita," pungkasnya.

Dalam konferensi pers itu hadir Prabowo Subianto, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mohamad Sohibul Iman, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan. Kemudian, elite Partai Gerindra, Ahmad Muzani, Fadli Zon, dan Fuad Bawazier serta Ketua DPP PAN Yandri Susanto.(exe/ist)


0 Komentar