Sabtu, 04 April 2020 14:25 WIB

Sutrija: Silahkan Lockdown, Kami Sudah Terbiasa Puasa dengan Umat Kami

Editor : Eggi Paksha
Sutrija. (foto istimewa)
(Sutrija, DR)
 
JAKARTA, Tigapilarnews.com-  Bertambahnya jumlah penduduk dunia memaksa manusia untuk mengembangkan berbagai komoditas untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat, rekayasa genetika seperti pada tumbuh-tumbuhan disamping menguntungkan karena hasil panennya akan lebih melimpah.
 
Namun hal ini juga tdk tertutup kemungkinan akan menimbulkan dampak baru yang dapat membahayakan kehidupan mahluk hidup lainnya seperti berkembangnya organisme baru yang hidup termodifikasi (the new living modified organism).
 
Begitu pula aneksasi pada binatang di peternakan dengan tujuan agar lebih cepat tumbuh besar dan menguntungkan, serta penangkapan hewan liar yang dilakukan secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa memikirkan keseimbangan alam dan lingkungannya maka akan dapat menimbulkan berkembangnya organisme atau penyakit baru lainnya seperti yang saat ini sedang mewabah begitu cepat sampai menjadi trending topic diberbagai macam media dan terjadi di berbagai negara di dunia yaitu Covid 19.
 
Berbagai negara baik yang sudah terjangkit virus maupun belum, berlomba mengeluarkan aturan untuk menyelamatkan rakyatnya dalam memitigasi penyebaran dan teknis penanggulanganya yang efektif sesuai dengan tingkat kejadian, kondisi geografi, demografi, tradisi serta budayanya masing-masing, banyak negara yang sudah memutuskan lockdown untuk mengatasinya.
 
Indonesia dalam mengambil keputusan masalan pandemi covid 19 ini tentunya tidak gegabah, perlu pemikiran, rembukan dan analisa-analisa yang tepat dan cepat, analogi dalam istilah elektrikalnya adalah (blackout analysis) dimana lampu mati gelap gulita, maka dengan melalui analisa tersebut ahirnya Repubik kita telah mengeluarkan keputusanya untuk mengatur pandemi ini melalui Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil.
 
Keputusan ini terlepas dari kontroversi atau tidak akan tetapi sudah dikeluarkan oleh pemerintah secara resmi, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi rakyatnya untuk mendukung dan mematuhi aturan tersebut.
 
Akan tetapi bagaimana biasanya pengambilan keputusan tentu ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju, namun dlm penanggulangan bencana Covid 19 ini banyak juga yang mempunyai pendapat berbeda dengan menginginkan status lockdown, gejolak seperti ini sudah biasa dalam kehidupan, maka disinilah diperlukanya pemimpin yang bijaksana (panjang ususnya banyak maklumnya tegas lidahnya) dalam menyikapi perberdaan karena biarbagaimanapun itu rakyatnya sendiri jadi jangan salah sedikit dilaporkan atau penjarakan.
 
Lalu bagaimana kalau memang Indonesia mengeluarkan keputusan lockdown yang menuntut rakyat untuk tidak keluar area yang sudah ditentukan dengan tidak bekerja seperti biasanya sehingga stres tidak ada pemasukan bagi pekerja tidak tetap atau sektor informal, lalu bagaimana mereka bisa membeli keperluan hidup untuk makan sehari-hari apabila tidak mempunyai uang, ini permasalahan yang timbul dari  keputusan lockdown tersebut.
 
Bagi umat muslim tentunya harus menyikapi dengan tenang, sabar jaga nafsu, tahan akan haus dan lapar, kendalikan stres karena tidak bisa keluar mencari nafkah karena sudah diajarkan terbiasa dengan berpuasa baik puasa wajib maupun sunah sambil bersedekah.
 
Berpuasa bukan semata untuk beribadah tapi salah satu intinya adalah bagaimana merasakan (empati) andaikata seseorang lapar akan tetapi tidak mempunyai cukup uang untuk membeli makanan, puasa juga dapat menghemat makanan karena yang biasanya sehari tiga kali makan menjadi dua kali (sahur dan buka), banyak berdiam di rumah juga banyak waktu utk beribadah dan berdoa karena sesungguhnya kekuatan yang paling dahsyat adalah dengan berdoa, ada pula yang menjalankan puasa dengan tujuan tertentu yaitu puasa putih misal hanya satu kali makan saat berbuka saja dengan mengkonsumsi satu gelas nasi putih tanpa lauk pauk.
 
Bahkan dalam dunia kesehatan alternatip seperti yoga dengan teknik konsentrasinya yang fokus dan meningkat ke meditasi, setelah meditasi dapat dilanjutkan kembali kejenjang yang lebih tinggi yaitu semedi dan yang lebih tinggi lagi dengan melakukan tapa brata, semua ini ada manfaatnya bagi yang percaya untuk menjalankanya.

0 Komentar