Selasa, 18 Agustus 2020 11:40 WIB

Ilmuwan Perkirakan Corona Bisa Sebabkan Kerusakan Permanen pada Tubuh

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Dengan jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di seluruh dunia melonjak melewati angka 21 juta, sebagian besar akan melakukan proses pemulihan yang baik.

Tetapi sekarang, para ilmuwan sedang melihat implikasi kesehatan jangka panjang dari Covid-19 dan apakah itu dapat menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh.

Orang-orang dengan hanya gejala ringan, diyakini akan pulih sepenuhnya tanpa kerusakan jangka panjang pada tubuh mereka. Tetapi, beberapa ilmuwan percaya, bahwa mereka yang berada di fase sedang hingga parah, mungkin akan mengalami kerusakan paru-paru permanen.

"Ketika Covid-19 memasuki tubuh, ia masuk melalui saluran pernapasan. Di sini ia berperilaku seperti virus Corona lainnya, seperti Sars, yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) biasanya menyerang paru-paru dalam tiga fase, yakni eplikasi virus, hiper-reaktifitas imun dan perusakan paru-paru," kata Amir Khan, seorang dokter di Layahan Kesehatan Nasional Inggris atau NHS, seperti dilansir Al Jazeera.


"Untuk menjelaskan semua itu, virus memasuki sel-sel di sepanjang saluran pernapasan dan "mendudukinya", memaksa mereka untuk membuat lebih banyak salinan virus. Ini kemudian bekerja sampai ke paru-paru, di mana bagi sebagian orang dapat menimbulkan dampak yang sangat serius," sambungnya.

Pada titik ini, jelasnya, Covid-19 dapat memicu respon imun berlebihan yang memicu reaksi berantai yang menyebabkan peningkatan peradangan dan cairan untuk mengisi paru-paru. Menurutnya, ini mempengaruhi sekitar 14 persen orang yang terinfeksi. Ketika ini terjadi, radang paru-paru masuk sebagai cairan menarik bakteri serta virus itu sendiri. Pernapasan menjadi sulit dan pasien perlu memakai ventilator.


"Ini adalah proses peradangan berlebih yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang berlebihan, yang merupakan bahaya terbesar bagi paru-paru. Ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kantung udara di pinggiran paru-paru yang dikenal sebagai alveoli," ucapnya.

"Ini adalah struktur halus, seperti balon yang terisi dengan udara, ketika kita menarik napas dan memungkinkan oksigen mengalir dari paru-paru ke dalam darah untuk diangkut ke seluruh tubuh. Mereka juga membantu menghilangkan karbon dioksida," jelasnya.

Dia menuturkan, peradangan yang disebabkan oleh respon imun tubuh terhadap virus dapat menyebabkan alveoli meletus, membuat paru-paru tampak seperti sarang lebah, atau mengeras sehingga mereka tidak lagi dapat melakukan pekerjaan mereka. Ketika ini terjadi, suatu kondisi yang mirip dengan fibrosis atau pengerasan paru-paru terjadi.

Menurut WHO, Sars, jenis virus Corona yang berperilaku serupa dengan Covid-19, melakukan hal yang sama pada paru-paru mereka yang terkena dampaknya dan menyebabkan kerusakan permanen pada kemampuan orang-orang ini untuk bernapas dengan normal.

"Semua ini menunjukkan bahwa bagi sejumlah kecil orang yang terkena penyakit parah, bernafas normal mungkin tidak akan pernah sama lagi dan kehabisan nafas saat aktivitas minimal atau memerlukan obat untuk membantu Anda bernapas bisa menjadi norma," ungkapnya.

Khan kemudian mengataan, bukan hanya paru-paru yang perlu diwaspadai oleh staf layanan kesehatan ketika merawat orang dengan kasus Covid-19 yang parah. Menurutnya, seiring dengan memburuknya infeksi, suatu kondisi yang dikenal sebagai sepsis atau infeksi yang berlebihan terjadi. Ini berarti bahwa banyak organ menjadi terpengaruh oleh satu infeksi, ginjal menjadi salah satu contohnya.

"Covid-19 masih merupakan penyakit baru dan para ilmuwan mempelajari hal-hal baru setiap hari. Hanya waktu yang akan mengatakan apakah mungkin ada kerusakan yang lebih luas pada tubuh, setelah virus terlepas karena infeksi," tukasnya.(bre)


0 Komentar