Selasa, 01 September 2020 19:14 WIB

Trump Bilang Jika Biden Tokoh Boneka dan Memicu Revolusi di AS

Editor : Eggi Paksha
Kolase Trump (kiri) dan Joe Biden. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden adalah tokoh boneka, yang, jika terpilih pada November mendatang akan memicu "revolusi" di Amerika serikat (AS). 

Hal itu dikatakan oleh Presiden AS, Donald Trump, dalam wawancara dengan Fox News. "Biden tidak akan menenangkan segalanya," kata Trump.


"Mereka akan mengambil alih. Mereka akan menang. Jika Biden masuk, mereka akan menang. Dia orang yang lemah. Dia dikendalikan seperti boneka. Jadi tidak akan tenang. Mereka akan mengambil alih kotamu. Ini revolusi. Anda mengerti itu. Ini adalah revolusi dan rakyat negeri ini tidak akan mendukungnya," imbuhnya seperti dilansir dari Sputnik, Selasa (1/9/2020).

Menurut Trump, pendanaan untuk "revolusi" berasal dari orang kaya yang sangat bodoh yang tidak tahu bahwa jika mereka berhasil, yang tidak akan berhasil, mereka akan dilemparkan ke serigala tidak seperti sebelumnya.

Pada hari Senin, Biden menuduh Trump semakin memecah negara yang dilanda protes daripada mempersatukannya dan kata-kata serta pesannya menaburkan kekacauan daripada hukum dan ketertiban.

Pernyataan Biden muncul setelah Trump dan Partai Republik berulang kali mengkritiknya dan Demokrat karena tidak mencela kampanye kekerasan selama tiga bulan oleh gerakan Antifa dan Black Lives Matter di negara bagian dan kota yang dikelola Demokrat.

Partai Republik mengatakan Demokrat di yurisdiksi itu mencoba untuk mencetak poin politik dalam tahun pemilihan dengan membiarkan protes dan kerusuhan yang kejam dan dengan menolak bantuan federal yang ditawarkan Trump untuk memadamkan kerusuhan.

Protes terhadap kebrutalan polisi dan rasisme dimulai di banyak kota di Amerika Serikat setelah kematian seorang Afro-Amerika George Floyd dalam tahanan polisi di Minneapolis pada 25 Mei.

Bulan lalu, gelombang protes baru dimulai di Wisconsin dan tempat lain di Amerika Serikat setelah polisi menembak Jacob Blake (29 tahun), seorang pria Afro-Amerika, di punggung tujuh kali. Insiden yang terjadi pada 23 Agustus itu membuat Blake lumpuh. Protes berubah menjadi kerusuhan lengkap dengan kekerasan terhadap polisi dan warga sipil serta aksi pembakaran dan perusakan.(ist)


0 Komentar