Rabu, 25 November 2020 13:51 WIB

"Anak Didik" Ditangkap, Prabowo Didesak Mundur dari Kabinet Jokowi-Amin dan Gerindra

Editor : Eggi Paksha
Prabowo (depan) dan Edhy. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Mantan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono ikut bersuara terkait ditangkapnya Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Probowo oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Arief mengatakan bahwa penangkapan itu menunjukkan bahwa KPK betul-betul menjadi mesin (engine) penangkap koruptor terbaik di Indonesia. 

"Semua masyarakat harus mendukung KPK terkait penangkapan kader Gerindra terbaik dan sangat dekat dengan Prabowo Subianto," ujarnya kepada wartawan, Rabu (25/11/2020).

Menurutnya, penangkapan Edhy Prabowo menjadi pelajaran besar sekaligus tamparan besar bagi Prabowo Subianto sebagai bos besar dari Edhy Prabowo.

Diketahui, Edhy Prabowo selama ini menjadi orang dekat Prabowo Subianto. Selain sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, dia merupakan Wakil Ketua Umum bidang Keuangan dan Pembangunan Nasional DPP Partai Gerindra. Sedangkan Prabowo Subianto selain menjadi Menteri Pertahanan, juga sebagai Ketua Umum Partai Gerindra.

"Ini pelajaran besar sekaligus tabokan besar bagi Prabowo sebagai bos besarnya Edhy Prabowo bahwa ternyata mulut yang sudah berbusa-busa dengan mengatakan korupsi di Indonesia sudah stadium empat, ternyata justru Edhy Prabowo, anak buahnya dan asli didikan Prabowo sendiri justru menjadi menteri pertama di era Jokowi yang terkena operasi tangkap tangan," tegasnya.

Arief Poyuono menuturkan sudah sejak awal harusnya Prabowo Subianto yang katanya ingin Indonesia bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) mengingatkan dan melarang para kadernya dan keluarganya untuk tidak memanfaatkan kekuasaan sebagai ladang berbisnis.

"Contoh saja izin ekspor lobster banyak yang diberi izin kepada perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan kader Gerindra dan keluarga. Tapi nyata justru (Prabowo Subianto) mendiamkan saja dan bisu seribu bahasa," tandasnya.

Nah dengan ditangkapnya Edhy Prabowo, kata Arief, tamat sudah cita-cita Prabowo menjadi Presiden Indonesia. Serta akan berpengaruh terhadap elektabilitas Partai Gerindra.

Karena itu, menurutnya, Prabowo Subianto harus bertanggung jawab kepada masyarakat pemilih Gerindra atas ketidakmampuan menjaga disiplin para kadernya hingga berpotensi besar menghancurkan marwah partai. "Jika Prabowo Subianto gentleman, dia harus mundur dari kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin serta mundur dari Gerindra," pungkasnya.(mir)


0 Komentar