Rabu, 09 Desember 2020 13:42 WIB

Migas Hingga Batu Bara Serta Pariwisata Lesu, Sawit Mampu Bertahan dan Sumbang Devisa Ekspor yang Besar

Editor : Eggi Paksha
Panen sawit. Ada 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung yang diserap oleh sektor sawit. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Di tengah pendemi corona yang merontokkan perekonomian dan sumber devisa Indonesia, kelapa sawit mampu bertahan dan menyumbangkan devisa ekspor sebesar USD13 miliar per Agustus 2020.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis yang memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan, kelapa sawit juga berperan baik dari aspek ekonomi, sosial dan ketahanan energi nasional.

Plt. Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Edi Wibowo mengatakan, Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit dunia, produk kelapa sawit dan turunannya telah diekspor ke seluruh penjuru dunia dan merupakan komoditas penghasil devisa ekspor terbesar Indonesia di luar non migas.

"Rata-rata nilai ekspor (kelapa sawit) per tahun mencapai sebesar 21,4 miliar dolar AS atau rata-rata 14,19 persen per tahun dari total ekspor non migas Indonesia," ujar Edi dalam Webinar bertajuk Prospek Bisnis Vitamin A & E Berbasis Minyak Kelapa Sawit, Rabu (9/12/2020).

Edi menambahkan, di masa pandemi Covid-19, sektor kelapa sawit terbukti mampu bertahan dan tetap menyumbangkan devisa ekspor yang cukup besar.

"Hingga Agustus 2020, devisa terkumpul dari ekspor sawit mencapai USD13 miliar di tengah lesunya sektor-sektor penghasil devisa lainnya seperti migas, batu bara dan pariwisata," kata dia.

Tidak hanya itu, perkebunan dan industri kelapa sawit juga telah membuka jutaan lapangan kerja di dalam negeri, baik untuk petani sawit, pekerja pabrik dan tenaga kerja lainnya di sepanjang rantai produksi kelapa sawit dari kebun sampai menjadi produk akhir.

"Lebih kurang ada 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung yang diserap oleh sektor sawit," ucap Edi.

Edi menuturkan, kelapa sawit juga telah berkontribusi menjadikan Indonesia sebagai produsen Biodiesel atau energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Biodiesel berbahan baku berasal dari minyak sawit melalui pencampuran dengan minyak solar dalam bentuk B30.

"Sejak Januari 2020 (B30) menjadikan Indonesia sebagai pionir di dunia dalam pemanfaatan campuran Biodiesel dalam BBM Solar terbesar di dunia yang mengurangi ketergantungan negara kita asal impor minyak solar sekaligus mengurangi defisit neraca perdagangan sektor migas," tuturnya.(mir)


0 Komentar