Sabtu, 06 Maret 2021 22:31 WIB

Vaksin Covid-19 Varian 501Y.V 2 Dapat Lindungi dari Berbagai Varian yang Beredar di Berbagai Dunia

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Penelitian oleh para ilmuwan Afrika Selatan menunjukkan bahwa antibodi yang dipicu oleh paparan varian virus corona di negara itu dapat mencegah infeksi oleh varian lain.

Temuan dalam studi laboratorium memberikan harapan bahwa vaksin COVID-19 berdasarkan varian 501Y.V 2 yang pertama kali diidentifikasi akhir tahun lalu dapat melindungi dari berbagai varian yang beredar di berbagai belahan dunia. 

Varian yang lebih menular mendorong gelombang kedua infeksi di Afrika Selatan yang mencapai puncaknya pada Januari 2021. Virus varian ini diyakini telah menyebar ke banyak negara lain di Afrika dan benua lain.

“Kami menggunakan plasma dari orang-orang yang terinfeksi dalam gelombang terbaru ini dengan 501Y.V2 dan kami menggunakannya untuk melawan virus gelombang pertama, ternyata itu dapat menetralkan,” kata Alex Sigal dari Institut Penelitian Kesehatan Afrika mengatakan pada konferensi pers seperti dikutip Reuters.

Sigal mengatakan vaksin yang dirancang dengan varian 501Y.V2 mungkin melindungi silang dari varian lain, ini memberi gambaran bagaimana masalah virus corona dari berbagai varian dapat disembuhkan.

Penny Moore, seorang profesor di National Institute for Communicable Diseases, mengatakan respons antibodi dari varian 501Y.V2 hanya berkurang tiga kali lipat terhadap virus gelombang pertama, sedangkan respons dari virus gelombang pertama berkurang sembilan kali lipat dibandingkan 501Y.V2.

"Bukan karena antibodi yang dipicu oleh 501Y.V2 entah bagaimana ada penurunan tapi tidak seperti antibodi yang dipicu oleh varian aslinya," katanya.


Salim Abdool Karim, penasihat pemerintah tertinggi untuk COVID-19, mengatakan produsen vaksin besar termasuk Pfizer, AstraZeneca dan Johnson & Johnson sudah membuat vaksin berdasarkan varian 501Y.V2. Moderna telah mengadaptasi memasukkannya ke dalam studi manusia.

Dia memperkirakan bahwa pada akhir tahun 2021 sebagian besar produsen vaksin akan menyesuaikan vaksin mereka. "Bukan karena mereka secara khusus mengkhawatirkan virus yang berasal dari Afrika Selatan tetapi karena mutasi kunci pada 501Y.V2 sebenarnya juga ada di banyak varian lainnya,” katanya.

Menteri Kesehatan Zweli Mkhize mengatakan hasil penelitian itu sangat memuaskan dan telah membantu pemerintah menanggapi pandemi. 

Afrika Selatan sejauh ini mencatat infeksi dan kematian COVID-19 terbanyak di benua Afrika, pada 1,5 juta kasus dan lebih dari 50.000 kematian hingga saat ini.(kah)


0 Komentar