Senin, 10 Mei 2021 10:54 WIB

International Mother’s Day, AST Ingin Suara para Ibu dan wanita di Turki Sampai ke Tokoh Wanita Dunia

Editor : Yusuf Ibrahim
Ilustrasi International Mother’s Day atau Hari Ibu Sedunia. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com-Lembaga advokasi Hak Asasi Manusia dan Sipil, Advocates Of Silenced Turkey (AST) melakukan gerakan kampanye menyuarakan aspirasi para wanita dan Ibu-ibu di Turki yang teraniaya.

Targetnya, agar suara kaum perempuan Turki yang terbungkam itu didengar oleh ribuan pemimpin wanita di dunia pada International Mother’s Day atau Hari Ibu Sedunia pada 9 Mei 2021.

"5.000 surat dan bunga untuk 5.000 pemimpin wanita di seluruh dunia mewakili suara bagi ribuan ibu yang teraniaya di Turki,” tulis AST di laman resminya.

AST ingin suara para Ibu dan wanita di Turki sampai ke para tokoh wanita dunia. Para sukarelawan AST di berbagai negara seperti di Amerika, Brasil, Albania, negara-negara Eropa dan Asia berupaya menjangkau ribuan wanita di seluruh dunia. Selain berkirim bunga, AST juga mengirimkan surat dari Ibu-ibu di Turki ke mereka.

"Perempuan Turki selalu didiskriminasi, ditundukkan, dan ditindas. Terutama para Ibu harus membayar harga konflik dan penindasan dengan lebih keras,” lanjut AST.

Selain itu, upaya kudeta yang gagal pada Juli 2016 kebetulan menjadi momen penting dalam sejarah modern Turki, yang diikuti oleh penganiayaan terhadap ribuan orang; di antaranya ada ribuan wanita dan Ibu.

Tindakan luar biasa yang diambil oleh pemerintah setelah upaya kudeta, konflik politik, dan penganiayaan berat telah melipatgandakan beban para Ibu. Karena propaganda pemerintah, para Ibu distigmatisasi dan dikucilkan dari masyarakat.

Mereka dihadapkan pada penahanan sewenang-wenang, anak atau suami mereka menjadi korban penghilangan paksa, dan mereka terpaksa mengungsi untuk bertahan hidup. "Para Ibu telah kehilangan anak atau nyawa mereka sendiri dalam keadaan yang menyedihkan ini," kata AST.

Salah satu surat tersebut berasal dari Sacide Bozan. Bozan diberhentikan dari pekerjaannya di Kementerian Pendidikan Nasional sebagai bagian dari undang-undang yang dilimpahkan untuk menentang Gerakan Gulen, yang di Turki disebut sebagai KHK.

Dia telah diadili selama 3 tahun, sedangkan suaminya yang juga seorang guru, telah ditahan selama 3 tahun atas tuduhan yang sama.

Sementara itu seorang wanita bernama Fatma Tuno, sudah selama dua tahun terakhir, mencari suaminya, mantan pegawai Kementerian Perindustrian Yusuf Bilge Tunç, yang tidak terdengar kabarnya sejak dia diculik saat bekerja di grosir untuk menghidupi keluarganya. Itu terjadi setelah dia dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai bagian dari undang-undang yang dilimpahkan untuk menentang Gerakan Gulen.(mir)


0 Komentar