Selasa, 10 Mei 2016 05:38 WIB

Menpora Imam Menangis Gara-gara Film MARS

Editor : Eggi Paksha

Laporan Eggi Paksha


JAKARTA, Tigapilarnews.com- Film MARS (Mimpi Ananda Raih Semesta) rupanya membuat Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, menangis saat menyaksikannya. Hal tersebut, diakui Menpora Imam tanpa malu-malu.


Dalam penilaian Cak Imam- sapaan Menpora Imam- jika film bertemakan pendidikan tersebut sangat wajib ditonton masyarakat Indonesia.


“Sudah pada nonton? Kalau belum ada yang nonton, nanti saya siapkan tiketnya," kata Menpora Imam Nahrawi kepada para wartawan di kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (09/05/2016).


"Dari awal sampai akhir, saya dibuat menangis. Khususnya ketika dia (Sekar Palupi/Acha Septriasa) sukses dalam studinya, tapi orang yang mensuportnya sudah meninggal. Siapapun pasti akan merasa kehilangan dan itu benar-benar membuat menangis. Ayo, mari menonton,” sambung Menpora Imam yang sebelumnya juga menghadiri langsung acara gala premiere film MARS di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Senin (02/05/2016) malam.


Film MARS adalah garapan Sutradara Sahrul Gibran dan diproduksi oleh Multi Buana Kreasindo. Film berdurasi 105 menit ini dibintangi Kinaryosih, Acha Septriasa, Jajang C. Noor, Teuku Rifnu Wikana dan lain-lainnya.


 


Film ini menceritakan kisah inspiratif perjuangan orang tua dari Gunung Kidul, yang ingin mewujudkan cita-cita anak gadisnya menempuh perguruan tinggi.  Seorang Ibu bernama Tupon (Kinaryosih), istri dari Surip  yang bekerja sebagai buruh angkut batu diperankan Teuku Rifnu Wikana, sama-sama berjuang demi kesejahteraan anaknya Sekar Palupi (Acha Septriasa). Suami-istri ini berusaha agar anak semata wayangnya bisa menempuh bangku pendidikan.


 


Tupon dan suaminya membanting tulang agar Sekar bisa sekolah. Namun, Tupon harus rela kehilangan suaminya yang meninggal akibat kecelakaan saat bekerja sebagai buruh batu. Keterbatasan tak membuat Tupon dan Sekar  mengubur cita-cita.


Kisah film ini diwarnai oleh air mata dan kehilangan, namun rintangan demi rintangan tidak dapat menghentikan langkah kaki mereka. Pasrah pada keadaan dan menyerah adalah pilihan terakhir. Berlatar belakang kehidupan keras yang penuh derita di Desa Gunung Kidul, yang terkenal memiliki angka bunuh diri tertinggi di Indonesia, keduanya bertekad mengguratkan jalan cerita berbeda yang berakhir bahagia.

Meski buta huruf, sang Ibu selalu menanamkan arti pentingnya pendidikan pada anak perempuannya sejak masih kecil. Dia ingin nasib anaknya berbeda dan menjadi bintang yang paling terang bersinar di malam hari, mengalahkan cahaya bintang yang lain di sekitarnya.

Sang Ibu menyebutnya lintang lantip atau ‘bintang yang cerdas’ yang ternyata merupakan planet MARS. Namun,  MARS judul film ini merupakan kepanjangan dari Mimpi Ananda Raih Semesta. Film ini ditayangkan di bioskop-bioskop mulai 4 Mei 2016.


Menpora Imam menilai, penayangan film MARS bertepatan dengan momentumperingatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, sangat tepat untuk menggugah semangat anak negeri untuk peduli dan mengutamakan pendidikan.


Film ini juga memberi pesan bahwa dengan semangat dan perjuangan keras, siapapun, anak kampung dari kalangan tidak mampu sekalipun, bisa mewujudkan cita-citanya.(exe)


0 Komentar