Minggu, 21 Juli 2019 18:33 WIB

Petani Was-was Karena Waduk Grojokan Kering

Editor : Eggi Paksha
Ilustrasi. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Datangnya musim kemarau, tidak hanya membuat ratusan warga di Desa Marmoyo, Kecamatan Kabuh, krisis air bersih.

Namun, juga membuat para petani gelisah. Minimnya ketersediaan air membuat para petani tembakau di Desa Pelabuhan, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, was-was dengan keberlangsungan usaha taninya.

Sebab, waduk Grojokan yang menjadi andalan para petani setempat untuk mengairi lahan pertanian mereka, kini mulai mengering. Padahal, lahan pertanian seluas 700 hektar milik petani, bergantung pada ketersediaan air di waduk seluas hampir 5 hektare ini.

"Sudah hampir 2 bulan ini air di waduk mengering. Padahal, kami sangat bergantung pada air di Waduk Grojokan untuk mengairi sawah. Apalagi sekarang lagi musim tanam tembakau," ujar Yadi, salah satu petani di desa setempat, Minggu (21/7/2019).

Petani berusia 49 tahun ini mengatakan, minimnya debit air di Waduk Grojokan sudah berlangsung selama hampir dua bulan terakhir. Praktis, para petani ini pun harus bersusah payah untuk bisa mendapatkan air guna mengairi tanaman tembakaunya. 

"Ya hanya tersisa sedikit. Disedot menggunakan pompa air juga tidak mungkin bisa. Terpaksa kami harus mengambil air dengan menggunakan timba kemudian dipikul ke sawah," terang Yadi.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang, Gunadi, tak menampik jika waduk tersebut menjadi satu-satunya andalan petani guna mensuplai kebutuhan air di lahan pertanian mereka.

"Memang, waduk Grojokan ini waduk tadah hujan. Tidak ada aliran air sungai yang langsung ke waduk tersebut. Sehingga setiap musim kemarau panjang selalu kering. Dan waduk ini memang digunakan warga untuk pengairan sawah," ujar Gunadi.

Namun demikian, lanjut Gunadi, keringnya waduk Grojokan tidak menimbulkan dampak lain, misalnya kebutuhan air bersih untuk warga Desa Pelabuhan. Menurutnya, kebutuhan air warga di desa setempat, selama ini tidak bergantung pada debit air di Waduk Grojokan.

"Kalau di Desa Pelabuhan tidak pernah terjadi krisis air bersih. Kalau di Kecamatan Plandaan biasanya itu di Dusun Klitih, Desa Pojok Klitih. Ada sekitar 100 Kepala Keluarga yang biasanya kita suplai air bersih saat kemarau. Tapi tahun ini, belum ada permintaan dari pemerintah desa," imbuhnya.

Gunadi menuturkan, berdasarkan tahun 2018, ada sebanyak enam kecamatan di Jombang, yang mengalami krisis air bersih saat kemarau tiba. Selain Kecamatan Plandaan, kekeringanjuga terjadi di Kecamatan Kabuh, Bareng, Bandar Kedungmulyo, Wonosalam, serta Mojoagung. 

"Namun untuk tahun ini kami belum mendapatkan laporan dari pemerintah desa terkait dengan kebutuhan dropping air bersih. Jika sudah ada laporan, nantinya BPBD akan mengirimkan air bersih untuk kebutuhan warga," pungkas Gunadi.(ist)


0 Komentar