Kamis, 20 Mei 2021 08:58 WIB

OJK dan Wali Kota Malang Beri Perhatian Kasus Guru TK Terjerat Pinjaman Online

Editor : Yusuf Ibrahim
Ilustrasi pinjaman online. (foto istimewa)

JAKARTA, Tigapilarnews.com- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang diwakili Kepala Kantor OJK Malang Sugiarto Kasmuri, melakukan pertemuan langsung dengan Susmiati, Guru TK di Malang yang terjerat pinjaman online (pinjol) dari sejumlah fintech lending.

Pertemuan OJK dengan Susmiati juga dihadiri Wali Kota Malang Sutiaji yang juga memberi perhatian khusus terhadap kasus ini. Susmiati dalam pertemuan tersebut menjelaskan bahwa dirinya telah meminjam melalui 19 fintech lending ilegal dan 5 fintech lending yang terdaftar atau berizin di OJK. Total kewajibannya mencapai sekitar Rp35 juta, dengan rincian Rp29 juta di fintech lending ilegal dan Rp6 juta di fintech lending resmi.

Terkait kasus tersebut, OJK akan memfasilitasi penyelesaian kewajiban Susmiati pada fintech yang legal dan akan berkoordinasi dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengenai kemungkinan adanya pelanggaran pelayanan yang dilakukan terhadap Susmiati.

"Kantor OJK Malang juga akan menindaklanjuti kasus ini dengan menemui Kapolresta Malang guna membahas penanganan terhadap fintech lending yang ilegal," kata Sugiarto dalam keterangan tertulis, Kamis (20/5/2021).

Mengenai pinjaman pada fintech lending yang ilegal, dalam pertemuan itu disepakati akan dibantu penyelesaiannya oleh Baznas Kota Malang sesuai arahan Walikota.

Sebelumnya, Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menyatakan keprihatinannya atas kasus yang menimpa Susmiati. Tongam kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak memanfaatkan fintech lending yang tidak terdaftar atau berizin OJK. "Kami sangat prihatin dengan peristiwa ini. Ini bukti bahwa kegiatan fintech lending ilegal ini sangat membahayakan masyarakat," kata Tongam.


Tongam juga meminta masyarakat yang sudah menjadi korban penagihan dengan kekerasan dari fintech lending ilegal untuk segera melaporkannya kepada Kepolisian. "Kegiatan penagihan yang tidak beretika dari fintech lending ilegal dengan teror, intimidasi, atau pelecehan merupakan tindakan yang tidak bisa ditolerir dan harus diproses hukum. Kita percayakan penanganannya di Kepolisian," tegasnya.


Untuk diketahui, Satgas Waspada Investasi hingga April kembali menemukan 86 platform fintech lending ilegal dan 26 kegiatan usaha tanpa izin yang berpotensi merugikan masyarakat. Sejak 2018 s.d. April 2021 ini Satgas sudah menutup sebanyak 3.193 fintech lending ilegal.(mir)


0 Komentar